Agoes Noegroho

267457_2044705848929_2066341_nAgoes Noegroho

 

Lulusan jurusan Seni Rupa Institut Teknologi Bandung (ITB) tahun 1984 ini dikenal lewat lukisan kaligrafinya yang selalu merujuk pada keesaan Allah. Sebagian besar karyanya bahkan sudah menjadi koleksi para kepala negara dan kolektor dari berbagai belahan dunia.

Selain Cina dan Jepang, kaligrafi juga dikenal dalam dunia seni rupa Islam. Kaligrafi Islam disadur dari ayat-ayat Al-Quran atau pun hadist yang kemudian dilukis dengan sedemikian rupa sehingga memiliki nilai seni dan estetika yang tinggi. Mengingat tingkat kesulitannya yang tinggi, tak semua orang mampu menghasilkan lukisan kaligrafi. Salah satu pelukis kaligrafi mumpuni yang dimiliki Indonesia adalah Goes Noeg.

Bakat melukis pria bernama lengkap Agoes Noegroho ini telah tampak sejak ia masih kecil. Uniknya, kegemarannya melukis ketika itu bukan di media yang lazim digunakan untuk melukis seperti kertas ataupun kanvas, melainkan tanah. “Pada saat teman-teman main bola, saya malah mengapling tanah untuk saya lukis dengan tangan,” ujar seniman kelahiran Semarang ini seperti dikutip dari situs kemenag.co.id. Selain tanah, Goes Noeg kecil terus mengasah keterampilannya dalam melukis dengan menggunakan genteng dan ranting.

Darah seni yang mengalir dalam diri anak ke-6 dari 12 bersaudara ini berasal dari kedua orangtuanya. Sang ayah merupakan seorang perwira TNI yang gemar melukis, sementara ibundanya yang hobi menari dikenal sebagai aktivis di Palang Merah Indonesia. “Saya sering tidur di pangkuan ayah, saat dia tengah melukis,” kenang Goes Noeg.

Untuk menyalurkan bakat seninya, tak seperti kebanyakan seniman lain yang memilih untuk berkuliah di Akademi Seni Rupa Indonesia (ASRI), Goes Noeg justru merasa kurang sreg. Ia lebih memilih untuk belajar di ITB, meski jurusan yang dipilihnya masih seputar bidang kesenian, tepatnya jurusan Seni Rupa. Sebelum memilih untuk masuk ITB, pria yang semasa mudanya sempat menekuni olahraga beladiri karate ini mengaku sempat ingin mengikuti jejak ayahnya untuk berkarir di dunia militer. Namun, setelah lulus dari ITB pun, Goes Noeg belum dapat menentukan jalan hidupnya.

Ia kemudian bekerja di Bimantara, serta sempat menjadi art director RCTI yang akhirnya menciptakan logo untuk stasiun televisi swasta pertama di Indonesia itu. Setelah cukup lama mengembara mencari jati diri, Goes akhirnya memantapkan diri sebagai pelukis kaligrafi serta menyebut dirinya sebagai pelukis muslim. Sejak saat itu, pelukis yang karya-karyanya selalu bertema dan merujuk kepada Keesaan Allah itu pun rajin mengikuti pameran demi pameran. Mulai dari kampung halamannya di Semarang, kemudian berlanjut ke Bandung, Jakarta hingga akhirnya melanglang buana ke tingkat mancanegara seperti di kedutaan besar Indonesia di Riyad, Jedah, Madinah, Singapura dan pameran bersama di Marseille Perancis serta di Swiss.

Lukisan kaligrafinya menjadi koleksi sejumlah tokoh penting baik dalam dan luar negeri. Misalnya, Presiden HM Soeharto, BJ Habibie, H Abdurrahman Wahid, Megawati Soekarnoputri, Susilo Bambang Yudhoyono, hingga Raja Fahd serta kedua putranya yaitu Putra Soultan dan Putra Abdullah dari Kerajaan Saudi Arabia.

Lukisan kaligrafinya bahkan menjadi koleksi sejumlah tokoh penting baik dalam dan luar negeri. Misalnya, Presiden HM Soeharto, BJ Habibie, H Abdurrahman Wahid, Megawati Soekarnoputri, Susilo Bambang Yudhoyono, hingga Raja Fahd serta kedua putranya yaitu Putra Soultan dan Putra Abdullah dari Kerajaan Saudi Arabia.

Para kolektor internasional dari berbagai negara seperti Prancis, Jerman, Jepang, Kuwait, Tanzania, Australia, Singapura, Jordania dan Uzbhekistan juga tak mau ketinggalan mengumpulkan karya-karya Goes Noeg. Karyanya terpampang pula di berbagai galeri yakni Art Asia Gallery di Utara Swiss dan University Collage London. Lukisan kaligrafi Goes Noeg juga dapat ditemui di Bank Islamic Development Jeddah, Kantor kabinet Mahathir Malaysia bahkan sampai ke Cape Town, Afrika Selatan.

Pada 6-9 Juli 2006, ia berpartisipasi dalam Islam Expo yang digelar di Alexandra Palace, Wood Green, London, Inggris. Islam Expo yang digelar untuk pertama kalinya itu merupakan event terbesar di Eropa dan didukung oleh Mayor of London Ken Livingstone. Dalam ajang bergengsi tersebut, Goes Noeg mengusung tema kaligrafi bertajuk The Servant`s Remembrance of Allah. Ia mengatakan bahwa lukisan kaligrafinya merupakan dzikrullah. “Saya bersyukur bisa ikut berpartisipasi dalam Islam Expo yang diadakan di London yang sekaligus mempromosikan dialog dan saling pengertian,” ujar ayah empat anak itu.

Goes mengaku, untuk ikut serta dalam ajang internasional sekaliber Islam Expo, ia harus menempuh jalan berliku terlebih dahulu. Tawaran yang datang secara tiba-tiba membuatnya tak memiliki banyak waktu untuk mempersiapkan diri. Semua biaya pun harus ia tanggung sendiri, belum lagi mengurus visa ke kedutaan Inggris di Jakarta yang harus melewati prosedur rumit. Goes bahkan mengaku sempat dimintai jaminan uang tabungan sebesar 60 juta rupiah. Untungnya, ada yang mau membuatkan buku tabungan dan mengisi uang sebanyak yang diminta, hingga akhirnya Goes pun berangkat ke Negeri Ratu Elizabeth itu.

Alumnus Jurusan Seni Rupa Institut Teknologi Bandung (ITB) tahun 1984 ini hanya dapat membawa beberapa karya kaligrafinya untuk dipamerkan sekaligus dijual. Bahkan salah satu buah lukisannya, ia persembahkan untuk dilelang oleh Yayasan Khaleefah Society (KS) Ltd di atas kapal wisata yang menyusuri sungai Thames yang membelah kota London. Rifat Khan dari KS Ltd mengatakan lukisan kaligrafi karya Goes Noeg sangat indah. Bahkan lukisan yang berbentuk segi tiga dengan tulisan kalimat Shahadat itu berhasil terjual seharga 450 pounds. Bisa menyumbangkan karyanya tanpa melihat harga yang dipatok merupakan sebuah kebahagiaan bagi pelukis yang pernah menjadi dosen tamu Lembaga Kaligrafi Indonesia itu. Sumbangan yang tidak ternilai harganya itu pun sangat membantu yayasan KS Ltd dalam mengumpulkan dana yang akan digunakan untuk para korban gempa bumi di Asia Selatan khususnya di daerah Khasmir.

Apa yang dilakukan oleh Goes Noeg, menurut Kusuma Pradopo, sekretaris pertama KBRI London, merupakan suatu diplomasi budaya dari warga negara Indonesia di luar negeri. “Saya menghargai apa yang dilakukan oleh Goes Noeg yang dengan rela menyumbangkan lukisan terbaiknya kepada yayasan sosial negara lain,” ujar diplomat muda itu seperti dikutip dari situs gatra.com. muli, red

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s